Saturday, 8 November 2014

Mampir Dulu ke Ciwidey Bandung

Sebenarnya sudah sangat terlambat untuk menulis ini, karena kegiatannya tujuh bulan yang lalu. Namun lebih baik saya mulai sekarang daripada tidak. Lumayan bisa buat kenang-kenangan.

Biasanya kalau ke Bandung di pikiran saya langsung otomatis menjurus ke makanan. Gambar pertama yang muncul di otak saya adalah tulang jambal yang pedas dan lezat itu. Lalu muncul teman-temannya yang lain seperti pie apel primarasa, brownies amanda, dsb. Namun, pada Bulan Mei lalu, tersisa dua hari sisa dinas saya di Bandung, saya tiba-tiba ingin jalan-jalan ke mana gitu, pokoknya yang melibatkan pemandangan alam, akhirnya saya kontak teman saya dan sepakat, kita jalan-jalan ke Ciwidey.

Perjalanan ke Ciwidey kami tempuh selama kurang lebih 3 jam dari Cigereleng dengan menaiki sepeda motor. Pilihan yang menyiksa menurut saya, karena pantat dan paha saya sangat tersiksa saat perjalanan pulang karena capek kelamaan duduk di motor. Kami berangkat pagi sekali karena jika kesiangan, selain panas juga akan terkena macet. Maklumlah Kota Bandung...

Awal perjalanan pemandangan yang tersuguh adalah perumahan yang membuat saya kurang tertarik. Namun, mendekati Gunung Patuha (kalo ga salah ya) udaranya langsung berubah dingin, pemandangannya langsung berubah menjadi hijau. Bahkan sudah mulai ada kebun teh mini. Wah saya senang sekali rasanya. Begitu memasuki Ciwidey, mulailah banyak kebun strawberry. Kalo ga ingat waktu saja saya pasti sudah minta mampir.





Salah satu Kebun Strawberry





Akhirnya saya berusaha mencueki aneka kebun strawberry di kanan kiri saya, meskipun hasrat untuk memetik strawberry semakin menggebu. Kami lalu meneruskan perjalanan ke tempat wisata yang pertama yaitu Kawah Putih. Perjalanan menuju Kawah Putih terasa menyenangkan karena banyak pepohonan yang mengingatkan saya akan Bukit Soeharto beberapa bulan yang lalu. Memang pastinya tidak selebat pohon di Bukit Soeharto, tapi cukuplah memberikan sedikit hawa-hawa Kalimantan tercinta. Begitu sampai di Kawah Putih, saya pun mencoba narsis-narsis sebentar, kapan lagi coba...




Lalu saya memasuki pintu gerbang Kawah Putih yang cukup asri dan bersih. Sekejap dan sekilas, pemandangan di sana sedikit mengingatkan saya dengan Sangeh. Tentunya tidak sedahsyat Sangeh, namun tetap saja cukup bagus. Kami pun mengendarai motor menuju area parkir. Teman saya bilang, dahulu pengendara sepeda motor boleh mengendarai sepedanya hingga masuk ke dalam sampai di tempat parkir dekat kawah. Namun rupanya sekarang berbeda. Pengendara motor harus memarkir motornya di parkir depan, sepertinya sih hanya pengendara mobil saja yang boleh membawa kendaraan hingga ke dalam. Namun ada juga mobil yang parkir di area ini. Hal ini sepertinya dimaksudkan sebagai sumber rejeki masyarakat sekitar melalui fasilitas mobil pengantar ke area kawah. Dan juga membuat parkir lebih teratur.




Kami pun memarkir motor di area parkir yang telah disediakan. Di sekitar tempat parkir tersebut terdapat aneka penjual buah, snack, dan beberapa barang seperti topi dan kacamata. Saya sempat mampir sebentar dan senang sekali melihat salah satu buah favorit saya, strawberry tampak merah segar dan besar-besar. Saya pun akhirnya tergoda untuk mencicipinya dengan cokelat.








Akhirnya, setelah puas makan strawberry, kami pun membeli masker karena area kawah penuh dengan gas belerang yang kuat. Efek yang ditimbulkan membuat mata iritasi, saluran pernafasan iritasi, batuk, pusing, mual bahkan muntah. Kami lalu membeli karcis untuk mengendarai kendaraan khusus yang mirip angkot untuk menuju area kawah. Saya beruntung mendapatkan duduk paling depan dan di tepi karena bisa leluasa menikmati pemandangan alam sepanjang perjalanan. Perjalanannya cukup jauh dan tidak bisa membayangkan jika harus berjalan kaki melewati hutan.




Setelah perjalanan yang menyenangkan, kami sampai di area kawah. Gas mulai terasa kuat dan pemandangan mulai tampak indah. Tedapat tanda peringatan yang mengingatkan pengunjung agar jangan lama-lama di area kawah karena gas belerang yang kuat bisa berbahaya. Saya menyayangkan banyak orang tua yang membawa anak balita dan anak kecil kemari. Saya tidak merekomendasikan tempat ini untuk anak-anak apalagi bayi dan balita karena gas belerangnya sangat kuat dan mengganggu.



Saya lalu melewati jalan menuju ke area kawah yang sedikit mengingatkan saya dengan jalan setapak di Uluwatu Bali. Saya lalu sampai di tangga berundak yang sempit dan indah dengan jalan menurun. Di samping tangga kawah mulai terlihat di antara pepohonan. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Saya tidak sabar ingin segera ke sana. Saya pun mempercepat langkah. Saya sempat melewati gua yang tampak sudah ditinggalkan. Sepertinya bekas tambang belerang. Saya mempercepat langkah melewati gua tersebut karena di depan gua hembusan gas belerang terasa amat sangat kuat sampai saya harus menahan nafas dan menutup mata.







Gua menambang belerang

Akhirnya saya sampai di antara pepohonan dan segera melangkah agar mencapai tepi kawah. Sampai di tepi kawah pemandangannya lebih menakjubkan lagi. Air kawah yang hijau dan putih berpadu sangat indah. Beberapa batang meliuk-liuk berwarna gelap menambah artistik pemandangan tersebut. Dinding tebing di samping kawah yang indah membuat saya semakin kagum. Saya pun tidak henti-hentinya mengabadikan pemandangan indah tersebut.





































Akhirnya setelah beberapa lama berlalu saya tidak tahan juga dengan uap belerang yang saya hirup entah berapa banyak. Saya mulai merasakan sakit kepala, mata iritasi, dan mual. Saya pun segera mengajak teman saya kembali dan membebaskan diri dari kurungan gas belerang menyengat ini.

Sampai di atas, saya beristirahat sebentar dan langsung pulang untuk menuju destinasi selanjutnya, yaitu Danau / Situ Patenggang.

Perjalanan menuju Danau Patenggang sangat asri. Banyak pepohonan dan sepanjang jalan banyak saya jumpai tempat outbond dan pemandian air panas. Saya benar-benar tergoda untuk mampir namun saya tidak punya banyak waktu. Selang beberapa lama, saya dikejutkan dengan pemandangan kebun teh yang sensasional. Indah sekali! Suasana yang sejuk, mendung, dan hamparan karpet teh berwarna hijau yang berpola dan berlabirin-labirin, mengingatkan saya akan film horor The Sign. Saya sangat takjub dengan keindahan pemandangan ini. Beberapa orang yang lewat tampak berhenti di spot-spot tertentu untuk menyelami labirin-labirin kebun teh dan berfoto ria. Saya pun tidak ketinggalan....



















Setelah puas dengan kebun teh, kami melanjutkan perjalanan kembali. Setelah beberapa saat, kami mulai mendekati Danau Patenggang. Dari jauh, pemandangan Danau Patenggang tampak spektakuler. Mengingatkan saya lagi dengan Bedugul, meskipun, lagi-lagi tidak sedahsyat Bedugul. Kami pun memotret ria di antara pemandangan indah ini.






Selanjutnya kami pun sampai di Danau Patenggang. Kembali kami disambut pemandangan kebun teh yang indah. Di area tempat wisata Danau patenggang, banyak dijumpai penjual makanan, buah dan barang-barang lainnya. Hawa dingin membuat perut saya lapar, dan itulah kenapa banyak penjual makanan di sini termasuk gorengan. Saya tergoda dengan aroma goregan yang terhampar di sepanjang kanan kiri saya. Akhirnya iman saya pun bobol dan saya membeli beberapa gorengan yang ternyata rasanya lezat. Apa mungkin karena lapar? Entahlah...



Untuk penjual makanannya, saya tidak merekomendasikannya, kecuali anda benar-benar sangat lapar. Hal ini karena aromanya saja yang sedap, untuk urusan rasa dan harga tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Saya pun langsung berkeliling-keliling mengitari danau. Pada saat saya mengelilingi danau saya terkejut mendapati seorang penjual yang menjual dan mempromosikan senajata tajam seperti pedang kepada anak-anak sekolah. Saya cukup jengkel dengan pemandangan tersebut.








penjual senjata tajam kepada anak-anak




Di seberang danau terdapat daratan tersendiri dan ada monumen Batu Cinta. Saya pun penasaran dan segera menyewa perahu untuk menyeberang. Menyebrangi danau, kembali mengingatkan saya akan sensasi saat saya mengunjungi Danau Beratan di Bedugul, Bali. Sesampainya di daratan, saya segera menuju Batu cinta, dan memang itu saja tujuan kami. Tidak ada apa-apa di sana selain Batu Cinta ini. Paling-paling kebun teh yang cukup indah. Selanjutnya kami pun kembali menyeberang.































Pulang dari Danau Patenggang, saya tiba-tiba memiliki rencana lain. Saya ingin memetik strawberry sendiri di kebun Strawberry. Sepanjang perjalanan pulang di daerah Ciwedey, kami mencari-cari perkebunan strawberry yang masih buka karena hari sudah mulai senja. Untungnya akhirnya kami menemukan sebuah tempat yang masih buka.

Saya pun bersuka cita dan segera menyambut kebun strawberry yang terhampar. Saya meresapi sensasi memetik buah sendiri. Rasanya sih sama saja sebenarnya, cuma untuk buah favorit saya yang bernama strawberry, inilah pertama kali saya melakukannya. Karena keasyikan memetik buah, saya tidak sadar strawberry saya sudah cukup banyak dalam keranjang. Saya pun segera menghentikannya karena saya pikir saya bisa bangkrut. Tahu sendiri lah berapa harga strawberry di Balikpapan yang selangit. Tapi betapa kagetnya saya karena strawberry tersebut ternyata harganya murah. Wah senang sekali rasanya. Dan rasanya? Segar sekali! Lebih enak daripada strawberry yang dijual di supermarket.





















Akhirnya kami pun pulang dengan kelelahan dan dengan tubuh yang terasa dihajar orang sekampung. Namun, overall perjalan mampir ke Ciwidey ini cukup mengesankan dari pagi hingga senja. Mulai dari bercapek-capek ria hingga merasakan segarnya strawberry.

Malamnya sebagai hiburan, saya menikmati Abuba Steak yang lezat sekali dan berbeda dengan Abuba Steak yang ada di depan Hotel Akmani. Abuba Steak yang di sini dagingnya mantep, sausnya lebih banyak, dan kentangnya lezat sekali. Nyummm!


Movie Review: The Oranges (2012)

Film ini sebenarnya bukan film baru, keluaran tahun 2012. Saya tidak sengaja melihatnya di channel FX. Sebenarnya saya sendiri sedikit malas untuk melakukan review movie, lebih suka baca-baca di blognya orang. Anyway, The Oranges ini membuat saya akhirnya harus mengetik reviewnya karena ceritanya cukup menggelitik hati saya. Ya. Ceritanya tidak biasa, tentang ujian hubungan dua keluarga yang bertetangga sekaligus bersahabat selama bertahun-tahun, karena salah seorang puteri dari keluarga itu, menjalin hubungan dengan kepala keluarga yang lain. Overall, cerita movienya ringan namun dalam dan kadang banyak adegan lucu.

Kisah dibuka dengan perayaan ulang tahun Nina Ostroff, seorang gadis yang sangat cantik, anak tunggal, bandel, dan menjalani hidup jauh dari kedua orang tuanya. Nina sudah lima tahun tidak pulang karena tidak cocok dengan ibunya. Saat itu, Nina sedang merayakan ulang tahunnya bersama dengan pacarnya, Ethan, dan teman-temannya. Di saat yang sama, orang tua Nina, Terry dan Cathy Ostroff sedang makan malam bersama tetangga mereka yang rumahnya juga di seberang rumah mereka dan telah menjadi teman akrab bertahun-tahun, Paige dan David Walling, dan putri mereka Vanessa Walling. Ternyata, si Vanessa dan Nina dulunya adalah teman akrab, sampai akhirnya Nina tidak berteman lagi dengan Vanessa karena lebih memilih teman-teman yang populer semasa sekolah, Nina juga pernah mengencani cowok idaman Vanessa yang telah disukai Vanessa selama bertahun-tahun. Wajar saja meski kedua orang tua mereka saling akrab berteman, Vanessa tidak menyukai Nina.

Saat acara makan malam berlangsung, Terry dan Cathy menelepon Nina dan menginginkan Nina pulang karena mereka merindukan Nina. Namun rupanya, Nina yang saat itu sedang sibuk berpesta pora dengan teman-teman dan pacarnya, Ethan, tidak terlalu mempedulikan orang tuanya. Nina bahkan memberi tahu jika dia tidak akan pulang dan berencana akan menikah dengan Ethan, cowok yang tidak pernah ditemui dan dikenal orang tuanya. Kontan saja orang tuanya terkejut dan menentang rencana Nina. Paige, David, dan Vanessa, hanya bisa menyaksikan hubungan Terry - Cathy dan Nina yang tidak mulus itu.

Selanjutnya terungkap, jika hubungan antara David dan Paige sedang tidak harmonis. Keduanya menjalin hubungan yang dingin dan membosankan. Hal ini membuat David akhirnya tidur terpisah dengan Paige. Vanessa cukup cemas dengan keadaan hubungan kedua orang tuanya.

Rupanya setelah pesta  ulang tahun Nina usai, pacarnya, Ethan, tertangkap basah sedang selingkuh dengan cewek lain. Kontan saja Nina marah, membatalkan rencana pernikahannya dengan Ethan dan tiba-tiba pulang ke kampung halamannya yang sebenarnya tidak terlalu disukainya, New Jersey.

Saat itu, keluarga Ostroff dan Walling sedang mengadakan pesta barbeku bersama di rumah keluarga Walling. Nina yang baru datang dari perjalanan mendapati rumahnya terkunci, jadi dia pergi ke rumah Walling. Di sanalah, Nina yang sudah lama tidak pernah pulang, bertemu dengan David. Situasi pertemuan pertama mereka tampak normal, seperti seorang puteri dan ayahnya. Bahkan, Cathy mencoba menjodohkan Nina dengan putera sulung keluarga Walling, Toby. Nah di kehidupan nyatanya, pemeran Nina dan Toby ini akhirnya menikah di tahun 2014. Barangkali mereka cinlok saat pembuatan film ini kali ya.

Toby memang pernah mencium Nina sekali, namun itu sepuluh tahun yang lalu, alias saat mereka masih di bangku sekolah. Saat ini, Nina sama sekali tidak ada rasa dengan Toby, namun, Toby sepertinya masih menyimpan rasa untuk Nina. Di sisi lain, Nina sering menghampiri David, ayah Toby, dan menemukan bahwa hubungan David dan Paige sedang tidak harmonis. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Nina untuk mendekati David. Sepertinya Nina jatuh cinta dengan pria yang usianya dua kali dari usianya dan merupakan tetangga sekaligus sahabat orang tuanya itu. David yang sedang dalam masa rentan dan tidak bahagia, akhirnya goyah juga didekati oleh gadis belia yang sangat cantik. Mereka pun akhirnya berciuman.

David merasa bersalah karena telah berciuman dengan Nina. Namun Nina dengan entengnya menganggap bahwa itu bukan apa-apa. Sementara itu, Toby yang sedang mendapatkan pekerjaan baru yang bergengsi tiba-tiba harus segera ke China.Sebelum pergi ke China, Toby mengundang Nina bergabung untuk makan malam dengan keluarganya. Kontan saja Nina senang, bukan karena bertemu Toby, tapi karena akan bertemu dengan David.

Akhirnya, acara makan malam dan pertemuan keluarga diwarnai dengan kondisi agak canggung. Paige yang sedang dingin dengan David tidak terlalu ceria. Vanessa yang memang tidak menyukai Nina merasa tidak senang dengan keberadaan Nina. Sementara David, merasa salah tingkah karena ada Nina di sana. Nina beberapa kali memperhatikan David dan David merasakan hal itu. Akhirnya untuk menetralisir suasana, sekaligus untuk menghindari Nina, David bermaksud keluar sendiri untuk membeli sesuatu. Tanpa disangka, Nina ternyata ikut dengan David. Hal ini semakin membuat David deg degan.

Nah, pas di mobil, David akhirnya memflorkan situasi. Dia merasa harus menjaga jarak dengan Nina, melupakan yang sudah terjadi dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sebaliknya Nina malah merasa tidak ada yang salah dengan hubungan mereka. Kegigihan Nina untuk mendekatinya akhirnya meluluhkan hati David dan mereka berciuman lagi.

Setelah Toby pergi ke Washington DC untuk persiapan ke China, Nina menemui David secara diam-diam di motel. Tanpa disangka, ibu Nina membuntuti Nina dan akhirnya menangkap basah Nina yang masuk kamar David. David dan Nina pun akhirnya mengakui hubungan mereka dan mengakui bahwa mereka saling mencintai. Kontan saja, semua orang shock, kecuali Toby yang sedang tidak berada di tempat. Vanessa yang lebih kasihan, sudah mama papanya berpisah, tambah lagi papanya berhubungan dengan gadis yang dibencinya.

Akhirnya, Nina dan David pun memulai hubungan mereka sebagai kekasih. David tampak bahagia dan lebih bersemangat menjalani hidup. Paige, pindah keluar rumah dan menjadi konduktor musik gereja, kegiatan ini tampak sebagai pengalih perhatiannya yang frustasi menghadapi hubungannya dengan David. Di sini, tampak, Paige sebagai orang yang sulit mengungkapkan emosi yang dipendamnya, makanya dia menjadi pemarah.

Hubungan David dan Nina mendapat banyak ujian, mulai dari teman-teman David yang tidak mendukung, sikap Paige yang semakin dingin, sikap keluarga Ostroff yang berubah dan renggang, serta sikap Vanessa yang tidak menyukai hubungan keduanya. Sementara itu, Cathy merasa sangat bersalah kepada Paige dan berulang kali membujuk Paige agar mengadakan acara bersama seperti dulu lagi. Namun rupanya, Paige sudah sangat terluka hingga akhirnya memilih menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas sosial di Banyard, yang mengelola investasi ternak untuk masyarakat miskin. Di Banyard ini, Paige bertemu dengan lelaki tampan salah satu pengelola Banyard, dan saya berharap banget akhirnya Paige sama dia, karena Paige ini masih cantik walaupun sudah berumur. Namun, hingga akhir movie ternyata keduanya tetap hanya sebagai teman. Ada satu adegan yang membuat saya tersentuh. Paige yang telah berbelanja bertemu pertama kali dengan pengelola Banyard yang keren itu. Lalu si pria bilang: "Daripada anda membelikan baju bayi untuk bayi yang sudah pasti punya uang, lebih baik anda menyumbangkan di sini." Mendengar hal itu, si Paige lalu menjawab dengan tenang, "Aku membelikan barang-barang ini untuk kekasih baru suamiku." Mendengar Paige, si pria lalu terdiam.

Sementara itu Nina bekerja di restoran teman David. Sebelumnya David memberinya hadiah sepatu untuk Nina yang akan membantunya bekerja di dapur restoran. Nina dan David pun saling mengungkapkan cinta. Di Restoran itu, Nina bekerja sangat baik, namun akhirnya dipecat karena mengetahui ternyata dia berhubungan dengan David. Pemilik restoran yang ternyata adalah teman David tidak ingin terlibat dengan cinta segitiga David-Nina-Paige.

Matan pacar Nina, Ethan mengunjungi Nina di New Jersey karena tidak bisa melupakan Nina. Ethan terkejut mengetahui Nina sudah punya kekasih, dan kekasihnya itu adalah sahabat orang tuanya yang sudah menikah. Meski demikian, Ethan kukuh akan merebut hati Nina dengan berdiri di luar halaman rumah Walling untuk membujuk Nina. Nina sendiri yang mencintai David tidak mempedulikan Ethan. Ethan tetap tidak menyerah.

Toby akhirnya pulang dan sangat terkejut mengetahui bahwa wanita yang dicintainya ternyata menjadi pacar ayahnya. Sementara itu Paige yang sedang berada di kantornya melihat wallpaper keluarganya dan merindukan kebersamaan itu. Akhirnya saat natal tiba, Paige pulang mengendarai mobil dan menabrakkan mobilnya ke hiasan-hiasan natal di halaman rumah Walling. David yang mengetahui keributan itu lalu keluar dengan marah. Namun Paige malah mengebut dan mengejar David yang akhirnya berlari-lari seperti orang bodoh. Paige lalu tertawa dan merasa puas. Saat itulah, saya merasa, akhirnya Paige bisa mengeluarkan emosinya yang terpendam.

Paige lalu turun dari mobil dan masuk ke rumah Walling, rumahnya dulu, karena dia rindu dengan Toby dan Vanessa. Keluarga Ostroff yang tadinya mengetahui keributan itu juga akhirnya ikut bergabung dengannya di kediaman Walling. Di sana ada Ethan, Vanessa, Toby, Nina, David, Cathy, Terry, Paige dan David. Pokoknya semua tokohnya berkumpul.

David yang masih marah dengan Paige yang berusaha menabraknya melabrak Paige namun ditahan oleh Terry. Paige, dengan mimik santai, dan separuh tersenyum, seolah tidak ada apa-apa, masuk begitu saja dan menyapa anak-anaknya. Dia menganggap semuanya normal. Padahal suasana berubah menjadi canggung, karena semua orang menyadari, akhirnya Paige dan David-Nina bertemu dalam satu ruangan bersama mereka pasca hubungan David-Nina dimulai. Paige berusaha tidak membahas apapun dan terlihat ceria untuk merayakan natal bersama anak-anaknya. Nina yang merasa tidak enak akhirnya menghadap Paige dan meminta maaf. Paige menamparnya, tetap dengan wajah santai. David merasa marah namun Nina menahannya.

Akhirnya, Nina merasa sedih setelah bertemu Paige. Dia merasa telah mengacaukan hidup semua orang, terutama hidup David. Nina pun akhirnya putus dengan David dan menjalani hidup sendiri di Eropa sebagai koki di restoran Roma. David berusaha untuk bangkit dan memahami apa yang telah dan sedang terjadi. Paige sibuk dengan kegiatan sosialnya dengan si cakep dari Barnyard (mungkin ini pendirinya games Barn yarn itu hehehe). Toby dan Vanessa menjalani hidup sendiri-sendiri, dan akhirnya Vanessa hidup di luar kota (horeee akhirnya dia bebas) dan mendapatkan pekerjaan baru. Cathy dan Terry, tetap memantau perkembangan hidup Nina. Begitulah akhirnya, saling berusaha normal meskipun tidak akan pernah sama lagi.