Showing posts with label Movie Review. Show all posts
Showing posts with label Movie Review. Show all posts

Sunday, 9 November 2014

Akhirnya terungkap siapa pemeran Mr. Grey dalam Film Fifty Shades of Grey

"Huaaa....!!!" itulah suara hati saya waktu mengetahui siapa yang akhirnya memerankan Christian Grey dalam Film Fifty Shades of Grey yang rencananya akan ditayangkan pada Bulan Pebruari 2015. Sempat ada rumor sebelumnya bahwa pemeran Mr. Grey dan Ana adalah Robert Pattinson dan Kirsten Stewart!!! What???!!!! Wah udah ilfeel duluan, dan terasa aneehhh bangett, secara ceritanya ini jauh berbeda dan karakternya juga jauh berbeda. Untungnya ga jadi.... fiuhhh...

Sebelumnya, harapan nun membumbung tinggi membayangkan Bang Matt Bomer sebagai Mr. Grey, karena secara fisik, versi saya, dia cocok 100% sebagai Mr. Grey: Wajah tenang, karismatik, ultra beautiful, psikopat, kelam, dan berkelas. Dan saya sudah menyambut gembira membayangkan pasangan Matt dan Alexis Bledel, wah serasi banget sebagai Christian Grey dan Anastasia Steele. Cocok banget sebagai pemeran dominan dan submissive.
Betapa serasinya mereka.... serba ultra (ultra beautiful)
Ini cocok pas scene di lift pasca interview

Yang ini cocok saat scene interview, waktu Grey kaget dengan pertanyaan Gay dari Ana (wkwkwk emang aslinya kok)

Wajah Matt Bomer juga cocok jadi psikopat, dan wajah Alexis yang cocok jadi cewek penasaran sekaligus pasrah

Dan wajah ini cocok saat berekspresi di "Red Room" saat Mr. Grey mengungkap ruang penyiksaan

Dan ini cocooooook banget saat sesi interview Grey dan Ana pertama kali, karismatik tapi psikopat, mengingatkan saya akan ekspresi dracula yang bertemu dengan mangsanya

ini cocok saat grey menunjukkan sisi dominan kepada Ana

Cocok saat scene Grey dan Ana pas di kafe sebelum Ana hampir tertabrak orang nggowess, atau cocok juga waktu nelepon asistennya


Dan ternyata, pendapat saya ini juga banyak banget yang setuju, sampai masuk di "Keep Calm" segala, ini dia....

Akan tetapi, ternyata eh ternyata, entah kenapa, barangkali ada sesuatu yang membuat Matt Bomer ini gak jadi merankan Mr. Grey, akhirnya peran Mr. Grey jatuh ke aktor Irlandia, Jamie Dornan! Wahh awalnya kecewa berat karena saya pernah melihat poster si Jamie Dornan ini. Dia tidak tampak sedominan Matt Bomer jadi kayaknya kurang sreg kalau memerankan Mr. Grey yang berkarakter dominan.
Duhhh jauhhh banget sama pasangan Matt - Alexis

Nah, karena ada rasa mengganjal di hati yang menyesakkan karena kecewa plus penasaran, akhirnya saya menjelajah dunia maya, dan....... oke.... akhirnya saya manggut2, setuju akhirnya, wong si Jamie Dornan ini pas pada angel2 tertentu juga jadi ultra beautiful gt hahahaha... okelah, barangkali kegagahannya tidak bisa 100% mirip karakter Mr. Grey, dan wajah Jamie Dornan menurut saya gak terlalu psiko psiko amat, malah mengingatkan saya pada Peter Parker-nya Spiderman hahaha... Malah sebenarnya wajah Matt Bomer yang lebih cocok karena mirip2 psiko yang menghanyutkan. Untungnya pemeran Ana, si Dakota Johnson saya bayangkan cukup cocok.
Yah... okelah, dari segi ultra beautifulnya, tapi terasa ada yang kurang....

Wajah psikopat, kenapa ya terasa dipaksakan???

Malah lebih cocok merankan Peter Parker di Spiderman hahaha.. atau Mark Zukerbergh di Social Network wkwkwk

Yah, ini ekspresi waktu di kafe... hmmm... yang ini baru cocok sama Mr. Grey, kejam2 gimana gt...

Yah... lumayanlah mereka .... (sok sutradara nih)

Dan pas melihat cuplikan episodenya di trailer, emang saya jadi suka melihat scene-scenenya. kayaknya sweet momentnya dapet deh...
Ini scene pas hampir tertabrak orang lagi nggowess

Padahal

Ini pas scene yang mana ya?? lupa....






Padahal bayanganku pas baca novelnya, si Grey pake kaus putih lengan panjang dan celana jeans dengan penampilan kasual, kok di filmnya jadi beda ya???


Tapi apapun yang terjadi, filmnya udah kelar, dan tinggal tunggu releasenya tahun depan. Semoga masih ada usia supaya bisa nonton. Pengen tahu gimana perbedaan film dan novelnya dan juga apakah akting si Jamie Dornan ini sudah sesuai dengan Mr. Grey yang sebenarnya.

Saturday, 8 November 2014

Movie Review: The Oranges (2012)

Film ini sebenarnya bukan film baru, keluaran tahun 2012. Saya tidak sengaja melihatnya di channel FX. Sebenarnya saya sendiri sedikit malas untuk melakukan review movie, lebih suka baca-baca di blognya orang. Anyway, The Oranges ini membuat saya akhirnya harus mengetik reviewnya karena ceritanya cukup menggelitik hati saya. Ya. Ceritanya tidak biasa, tentang ujian hubungan dua keluarga yang bertetangga sekaligus bersahabat selama bertahun-tahun, karena salah seorang puteri dari keluarga itu, menjalin hubungan dengan kepala keluarga yang lain. Overall, cerita movienya ringan namun dalam dan kadang banyak adegan lucu.

Kisah dibuka dengan perayaan ulang tahun Nina Ostroff, seorang gadis yang sangat cantik, anak tunggal, bandel, dan menjalani hidup jauh dari kedua orang tuanya. Nina sudah lima tahun tidak pulang karena tidak cocok dengan ibunya. Saat itu, Nina sedang merayakan ulang tahunnya bersama dengan pacarnya, Ethan, dan teman-temannya. Di saat yang sama, orang tua Nina, Terry dan Cathy Ostroff sedang makan malam bersama tetangga mereka yang rumahnya juga di seberang rumah mereka dan telah menjadi teman akrab bertahun-tahun, Paige dan David Walling, dan putri mereka Vanessa Walling. Ternyata, si Vanessa dan Nina dulunya adalah teman akrab, sampai akhirnya Nina tidak berteman lagi dengan Vanessa karena lebih memilih teman-teman yang populer semasa sekolah, Nina juga pernah mengencani cowok idaman Vanessa yang telah disukai Vanessa selama bertahun-tahun. Wajar saja meski kedua orang tua mereka saling akrab berteman, Vanessa tidak menyukai Nina.

Saat acara makan malam berlangsung, Terry dan Cathy menelepon Nina dan menginginkan Nina pulang karena mereka merindukan Nina. Namun rupanya, Nina yang saat itu sedang sibuk berpesta pora dengan teman-teman dan pacarnya, Ethan, tidak terlalu mempedulikan orang tuanya. Nina bahkan memberi tahu jika dia tidak akan pulang dan berencana akan menikah dengan Ethan, cowok yang tidak pernah ditemui dan dikenal orang tuanya. Kontan saja orang tuanya terkejut dan menentang rencana Nina. Paige, David, dan Vanessa, hanya bisa menyaksikan hubungan Terry - Cathy dan Nina yang tidak mulus itu.

Selanjutnya terungkap, jika hubungan antara David dan Paige sedang tidak harmonis. Keduanya menjalin hubungan yang dingin dan membosankan. Hal ini membuat David akhirnya tidur terpisah dengan Paige. Vanessa cukup cemas dengan keadaan hubungan kedua orang tuanya.

Rupanya setelah pesta  ulang tahun Nina usai, pacarnya, Ethan, tertangkap basah sedang selingkuh dengan cewek lain. Kontan saja Nina marah, membatalkan rencana pernikahannya dengan Ethan dan tiba-tiba pulang ke kampung halamannya yang sebenarnya tidak terlalu disukainya, New Jersey.

Saat itu, keluarga Ostroff dan Walling sedang mengadakan pesta barbeku bersama di rumah keluarga Walling. Nina yang baru datang dari perjalanan mendapati rumahnya terkunci, jadi dia pergi ke rumah Walling. Di sanalah, Nina yang sudah lama tidak pernah pulang, bertemu dengan David. Situasi pertemuan pertama mereka tampak normal, seperti seorang puteri dan ayahnya. Bahkan, Cathy mencoba menjodohkan Nina dengan putera sulung keluarga Walling, Toby. Nah di kehidupan nyatanya, pemeran Nina dan Toby ini akhirnya menikah di tahun 2014. Barangkali mereka cinlok saat pembuatan film ini kali ya.

Toby memang pernah mencium Nina sekali, namun itu sepuluh tahun yang lalu, alias saat mereka masih di bangku sekolah. Saat ini, Nina sama sekali tidak ada rasa dengan Toby, namun, Toby sepertinya masih menyimpan rasa untuk Nina. Di sisi lain, Nina sering menghampiri David, ayah Toby, dan menemukan bahwa hubungan David dan Paige sedang tidak harmonis. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Nina untuk mendekati David. Sepertinya Nina jatuh cinta dengan pria yang usianya dua kali dari usianya dan merupakan tetangga sekaligus sahabat orang tuanya itu. David yang sedang dalam masa rentan dan tidak bahagia, akhirnya goyah juga didekati oleh gadis belia yang sangat cantik. Mereka pun akhirnya berciuman.

David merasa bersalah karena telah berciuman dengan Nina. Namun Nina dengan entengnya menganggap bahwa itu bukan apa-apa. Sementara itu, Toby yang sedang mendapatkan pekerjaan baru yang bergengsi tiba-tiba harus segera ke China.Sebelum pergi ke China, Toby mengundang Nina bergabung untuk makan malam dengan keluarganya. Kontan saja Nina senang, bukan karena bertemu Toby, tapi karena akan bertemu dengan David.

Akhirnya, acara makan malam dan pertemuan keluarga diwarnai dengan kondisi agak canggung. Paige yang sedang dingin dengan David tidak terlalu ceria. Vanessa yang memang tidak menyukai Nina merasa tidak senang dengan keberadaan Nina. Sementara David, merasa salah tingkah karena ada Nina di sana. Nina beberapa kali memperhatikan David dan David merasakan hal itu. Akhirnya untuk menetralisir suasana, sekaligus untuk menghindari Nina, David bermaksud keluar sendiri untuk membeli sesuatu. Tanpa disangka, Nina ternyata ikut dengan David. Hal ini semakin membuat David deg degan.

Nah, pas di mobil, David akhirnya memflorkan situasi. Dia merasa harus menjaga jarak dengan Nina, melupakan yang sudah terjadi dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sebaliknya Nina malah merasa tidak ada yang salah dengan hubungan mereka. Kegigihan Nina untuk mendekatinya akhirnya meluluhkan hati David dan mereka berciuman lagi.

Setelah Toby pergi ke Washington DC untuk persiapan ke China, Nina menemui David secara diam-diam di motel. Tanpa disangka, ibu Nina membuntuti Nina dan akhirnya menangkap basah Nina yang masuk kamar David. David dan Nina pun akhirnya mengakui hubungan mereka dan mengakui bahwa mereka saling mencintai. Kontan saja, semua orang shock, kecuali Toby yang sedang tidak berada di tempat. Vanessa yang lebih kasihan, sudah mama papanya berpisah, tambah lagi papanya berhubungan dengan gadis yang dibencinya.

Akhirnya, Nina dan David pun memulai hubungan mereka sebagai kekasih. David tampak bahagia dan lebih bersemangat menjalani hidup. Paige, pindah keluar rumah dan menjadi konduktor musik gereja, kegiatan ini tampak sebagai pengalih perhatiannya yang frustasi menghadapi hubungannya dengan David. Di sini, tampak, Paige sebagai orang yang sulit mengungkapkan emosi yang dipendamnya, makanya dia menjadi pemarah.

Hubungan David dan Nina mendapat banyak ujian, mulai dari teman-teman David yang tidak mendukung, sikap Paige yang semakin dingin, sikap keluarga Ostroff yang berubah dan renggang, serta sikap Vanessa yang tidak menyukai hubungan keduanya. Sementara itu, Cathy merasa sangat bersalah kepada Paige dan berulang kali membujuk Paige agar mengadakan acara bersama seperti dulu lagi. Namun rupanya, Paige sudah sangat terluka hingga akhirnya memilih menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas sosial di Banyard, yang mengelola investasi ternak untuk masyarakat miskin. Di Banyard ini, Paige bertemu dengan lelaki tampan salah satu pengelola Banyard, dan saya berharap banget akhirnya Paige sama dia, karena Paige ini masih cantik walaupun sudah berumur. Namun, hingga akhir movie ternyata keduanya tetap hanya sebagai teman. Ada satu adegan yang membuat saya tersentuh. Paige yang telah berbelanja bertemu pertama kali dengan pengelola Banyard yang keren itu. Lalu si pria bilang: "Daripada anda membelikan baju bayi untuk bayi yang sudah pasti punya uang, lebih baik anda menyumbangkan di sini." Mendengar hal itu, si Paige lalu menjawab dengan tenang, "Aku membelikan barang-barang ini untuk kekasih baru suamiku." Mendengar Paige, si pria lalu terdiam.

Sementara itu Nina bekerja di restoran teman David. Sebelumnya David memberinya hadiah sepatu untuk Nina yang akan membantunya bekerja di dapur restoran. Nina dan David pun saling mengungkapkan cinta. Di Restoran itu, Nina bekerja sangat baik, namun akhirnya dipecat karena mengetahui ternyata dia berhubungan dengan David. Pemilik restoran yang ternyata adalah teman David tidak ingin terlibat dengan cinta segitiga David-Nina-Paige.

Matan pacar Nina, Ethan mengunjungi Nina di New Jersey karena tidak bisa melupakan Nina. Ethan terkejut mengetahui Nina sudah punya kekasih, dan kekasihnya itu adalah sahabat orang tuanya yang sudah menikah. Meski demikian, Ethan kukuh akan merebut hati Nina dengan berdiri di luar halaman rumah Walling untuk membujuk Nina. Nina sendiri yang mencintai David tidak mempedulikan Ethan. Ethan tetap tidak menyerah.

Toby akhirnya pulang dan sangat terkejut mengetahui bahwa wanita yang dicintainya ternyata menjadi pacar ayahnya. Sementara itu Paige yang sedang berada di kantornya melihat wallpaper keluarganya dan merindukan kebersamaan itu. Akhirnya saat natal tiba, Paige pulang mengendarai mobil dan menabrakkan mobilnya ke hiasan-hiasan natal di halaman rumah Walling. David yang mengetahui keributan itu lalu keluar dengan marah. Namun Paige malah mengebut dan mengejar David yang akhirnya berlari-lari seperti orang bodoh. Paige lalu tertawa dan merasa puas. Saat itulah, saya merasa, akhirnya Paige bisa mengeluarkan emosinya yang terpendam.

Paige lalu turun dari mobil dan masuk ke rumah Walling, rumahnya dulu, karena dia rindu dengan Toby dan Vanessa. Keluarga Ostroff yang tadinya mengetahui keributan itu juga akhirnya ikut bergabung dengannya di kediaman Walling. Di sana ada Ethan, Vanessa, Toby, Nina, David, Cathy, Terry, Paige dan David. Pokoknya semua tokohnya berkumpul.

David yang masih marah dengan Paige yang berusaha menabraknya melabrak Paige namun ditahan oleh Terry. Paige, dengan mimik santai, dan separuh tersenyum, seolah tidak ada apa-apa, masuk begitu saja dan menyapa anak-anaknya. Dia menganggap semuanya normal. Padahal suasana berubah menjadi canggung, karena semua orang menyadari, akhirnya Paige dan David-Nina bertemu dalam satu ruangan bersama mereka pasca hubungan David-Nina dimulai. Paige berusaha tidak membahas apapun dan terlihat ceria untuk merayakan natal bersama anak-anaknya. Nina yang merasa tidak enak akhirnya menghadap Paige dan meminta maaf. Paige menamparnya, tetap dengan wajah santai. David merasa marah namun Nina menahannya.

Akhirnya, Nina merasa sedih setelah bertemu Paige. Dia merasa telah mengacaukan hidup semua orang, terutama hidup David. Nina pun akhirnya putus dengan David dan menjalani hidup sendiri di Eropa sebagai koki di restoran Roma. David berusaha untuk bangkit dan memahami apa yang telah dan sedang terjadi. Paige sibuk dengan kegiatan sosialnya dengan si cakep dari Barnyard (mungkin ini pendirinya games Barn yarn itu hehehe). Toby dan Vanessa menjalani hidup sendiri-sendiri, dan akhirnya Vanessa hidup di luar kota (horeee akhirnya dia bebas) dan mendapatkan pekerjaan baru. Cathy dan Terry, tetap memantau perkembangan hidup Nina. Begitulah akhirnya, saling berusaha normal meskipun tidak akan pernah sama lagi.

Wednesday, 12 March 2014

Sekilas Tentang Beberapa Film2nya Tom Hanks (The Green Mile dan Cast Away)


Ceritanya, pas buka gmail, ternyata masih ada yang like blogku di wordpress jaman baheula.... wah terharu, secara sudah lamaaaaaaaaa bwanget kutinggalkan, udah lupa lagi passwordnya, dan udah punya yang baru di blogger... maafin aku my fantasticrab. Kubuka-buka ternyata dulu aku sempat nulis banyak banget... ngakak sendiri waktu baca-baca beberpa posting jaman dulu, hmm... ternyata bahasaku lebay banget, sampai malu sendiri.... so pada di copas aja dan dihapus vocabulary lebay alaynya biar si My perceptionku ini tambah rame ^____^

Pak Tom Wes Tuwo
 Alasan aku memilih Film2 Tom Hanks untuk dibahas dalam blogku adalah aku mengagumi makna pesan dari hampir sebagian besar filmnya, dan film-filmnya rata-rata bisa menyentuh hatiku. Tom Hanks sendiri lahir pada 9 Juli 1956. Hmmm… deketan sama bulan kelahiran Syauqi…
Sebagai aktor watak, film-film yang dibintanginya mempunyai makna yang dalam dan mampu menghanyutkan penonton. Sebutlah The Green Mile, Cast away, Saving Private Ryan, The Da Vinci Code, Angel and Demon, Forrest Gump, The Terminal, Sleepless in Seattle de el el. Buat dua film teratas aku acungi jempol empat (pake jempol kaki). Yang kusebutin terakhir tuh Sleepless in Seattle sukaaaa bangett, so romantic :)
The Green Mile adalah film yang menguras air mataku dan Cast Away adalah film yang membuat aku tersadar betapa pentingnya arti perjuangan sesulit apapun yang terjadi.  Buat Saving Private Ryan memang banyak yang suka, tapi aku pribadi kurang tersentuh. Satu poin istimewa dari film Saving Private Ryan adalah nasehat yang tersirat dari film tersebut. Di mana untuk memperjuangkan hidup seseorang (Ryan) Tom Hanks dan kawan-kawannya harus gugur. Buat Forrest Gump, film jadul satu ini banyak juga yang suka, tapi lagi lagi aku pribadi kurang suka, filmnya menurutku kurang menggigit. Tapi pesan yang disampaikan bolehlah…. Buat The Terminal lumayan bagus. Andai saja bagian film yang tidak masuk akal (seperti pekerjaan yang diperoleh Tom Hanks secara mendadak sebagai kontraktor dan pembangunan air mancur mini dalam bandara) ditiadakan, pasti aku kasi jempol juga. But sorry for Da Vinci Code dan Angel and Demon, karena   menurutku mending baca novelnya aja, jauh lebih seru...


The Green Mile memberikan pesan bahwa sifat seseorang tidak bisa dinilai dari penampilannya. Dalam film yang berdurasi kurang lebih 3 jam (kalo ga salah) The Green Mile benar-benar mampu menghanyutkan penontonnya (aku maksudnya).
Dalam  film tersebut Tom Hanks berperan sebagai Paul Edgecomb yang bekerja sebagai kepala penjaga di penjara Coal Mountain Lousiana pada tahun 1935. Di situ Tom Hanks diceritakan sebagai kepala penjaga yang baik dan hormat kepada para napi. Hingga suatu hari datanglah seorang penjahat besar yang dituduh atas kasus kejahatan seksual terhadap anak kecil, John Coffey, yang diperankan dengan sangat baik oleh Michael Clarke Duncan (pernah main di Armageddon). John ini berkulit hitam dengan wajah sadis dan tubuh besar. Awalnya orang akan menyangka bahwa dia benar-benar seorang penjahat yang keji, namun percayalah dia bahkan orang yang hatinya lebih lembut dari hatiku …
John Coffey waktu baru tiba, penampilannya memang seolah-olah seperti reputasinya
John ini ternyata sangat menderita. Apa pasal? Ternyata dia mempunyai kekuatan ajaib untuk menyerap kesedihan dan penyakit orang. Sehingga orang yang disembuhkannya bisa kembali bebas dari rasa sakit atau deritanya. Namun, hal itu berarti John menanggung semua kesedihan dan kesakitan orang-orang yang disembuhkannya. Kasihan John… 
Dalam tawanan tersebut, timbullah jalinan persahabatan yang dekat antara John dengan Paul. Akan tetapi, bagaimanapun pada akhirnya John harus dieksekusi mati di kursi listrik. Eksekusi tersebut sangat mengerikan, bagi yang mengalami dan juga bagi yang melihatnya. Seseorang yang sebelumnya diikat erat dengan pengunci besi di kursi, akan dibasahi kepalanya dengan kain, lalu kepalanya akan dipasang alat yang agak mirip  helm besi. Selanjutnya dia akan disetrum hingga mati. 
Pada malam hari sebelum hari eksekusi tiba, merupakan saat yang sangat mengharukan. Pada saat itu, Paul bertanya pada John, “John, apa hal terakhir yang kau inginkan?”. John menjawab “Paul, aku belum pernah menonton film”. Saat itulah Paul memutarkan film untuk John yang juga ditonton oleh para napi yang lain. Saat itu aku sudah nangis. Bagaimana tidak, ekspresi John saat mengucapkannya benar-benar menyedihkan dengan mata sayu. Secara wajahnya Clarke Duncan emang melas gitu...
Ekspressi John saat pertama kali menonton film menjelang eksekusi mati
Keesokan harinya saat hari eksekusi tiba, Paul memimpin pelaksanaan eksekusi terhadap sahabatnya sendiri, John. Terlihat sekali dia nyaris tidak sanggup melakukannya. Namun akhirnya eksekusi pun dilaksanakan.
Plot film kemudian maju begitu jauh, menceritakan saat Paul berumur 108 tahun dan masih segar bugar. Ternyata, Paul seolah-olah dihukum oleh Tuhan karena mempunyai andil atas kematian John yang notabene orang yang dikasihi Tuhan. Paul diberi umur yang sangat panjang agar dia menyaksikan kematian orang-orang yang dicintainya (istri, anak, dsb). 
Anyway, The Green Mile, meskipun jadul abis, tapi selalu terkenang di hati :)

Selanjutnya The Cast Away, Speechless kalo ngomongin film yang satu ini. (menurutku) top banget, yaaa walaupun endingnya itu, ga enak banget dan ga memuaskan hati....
Inti ceritanya adalah Chuck Noland (Tom Hanks) dari Memphis adalah karyawan FedEx (tukang antar barang express). Dia punya kekasih bernama Kelly. Pada saat malam natal, si Chuck harus meninggalkan kekasihnya demi pekerjaan, tetapi dia berjanji tahun baru dia sudah pulang. Sebelum Chuck pergi, Kelly memberi hadiah liontin yang di dalamnya terdapat foto Kelly.
Akhirnya berangkatlah Chuck dengan mengendarai pesawat bersama rekan-rekannya melintasi lautan Pasifik. Rupanya cuaca sedang buruk. Alhasil, pesawat yang ditumpangi Chuck mengalami kecelakaan dan karam di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Seluruh penumpang pesawat kecuali Chuck tewas. Chuck menghadapi kenyataan bahwa dirinya berada di Pulau terpencil sendirian.


Menghadapi hal seperti itu, sungguh ironis. Dia hidup di sebuah tempat yang tidak dihuni manusia dan penuh hutan. Chuck sempat shock beberapa saat menyadari hal itu.  
Tapi dia segera bangkit. Dia melihat barang-barang kiriman FedEx yang masih tersisa dari bangkai pesawat. Dia bergegas memilih barang-barang yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Chuck memakai kardus kemasan untuk selimut dan rumah sederhana yang memberinya kehangatan di malam hari. Selain itu dia mencoba membuat api dengan menggesek-gesek kayu. Hal itu benar-benar cobaan bagi Chuck, karena membuat api dengan cara manual ternyata tidaklah mudah. Chuck harus menggesek-gesekkan kayu hingga tangannya luka dan berdarah. Chuck mulai putus asa, dia merasa kesal dan marah karena usahanya membuat api malah berujung pada luka di tangannya. Akhirnya dia melampiaskan kekesalannya dengan cara memukulkan tangnnya yang bedarah ke sebuah bola voli (salah satu barang FedEx yang akan dikirimkan). Beberapa saat kemudian, Chuck memperhatikan bola voli yang dia pukul dan menyadari bahwa bekas noda darahnya di bola voli bisa bermanfaat. Chuck akhirnya membentuk wajah manusia dari bercak darah yang ada pada bola voli tersebut. Bola itulah yang akhirnya menjadi teman bicara Chuck selama terdampar. Chuck menamainya Wilson.
Wilson ternyata sangat berguna dalam membantu Chuck untuk tetap waras dan bertahan hidup. Pada akhirnya Chuck berhasil membuat api, dan dia sangat kegirangan dengan hal itu. Selanjutnya dia juga berhasil mencari sumber air minum dari buah kelapa. Dia juga memanfaatkan pisau di bagian bawah sepatu skater sebagai pisau untuk bertahan hidup. Foto Kelly dalam liontin dan Wilson merupakan penyemangatnya untuk survive.


Salah satu adegan yang cukup menarik adalah, saat Chuck mengalami sakit gigi dan dia tidak punya alat atau obat untuk meringankan sakitnya. Akhirnya  
Chuck memutuskan untuk mencabut gigi yang sakit tersebut. Tapi masalahnya, gigi tersebut adalah gigi geraham yang kuat dan besar, bagaimana mungkin sanggup mencabutnya??? Tapi Chuck tetap nekad. Dia menempelkan ujung tajam pisau dari sepatu skatter, dan bersiap untuk memukul ujung pisau lainnya dengan batu yang dia gunakan untuk mendorong gigi yang sakit! Dia mencoba memukul pelan awalnya, dan seperti yang diprediksi sebelumnya, sakiiiiit!!! Ngeliatnya ngilu banget... Udah kepalang basah, Chuck tetap memutuskan untuk mencabutnya. Pada aksi berikutnya, dia mengambil ancang-ancang untuk memukul ujung pisau dengan batu dengan pukulan yang keras. Terdengar suara ketakutan sekaligus kenekadan dari suara Chuck. Akhirnya “Dugg!!!!” yang diikuti teriakan Chuck, “Aaargggghhh…!!!!”, terlihat gigi yang terbang dengan darah muncrat dan Chuck pun pingsan…
Setelah 4 tahun lamanya, Chuck sudah mempunyai “database” tentang ombak. Dengan database tersebut Chuck berencana untuk membebaskan diri dari pulau tersebut. Dia berusaha membuat perahu yang dia rakit dari kayu-kayu di hutan (dalam film ditunjukin kayaknya si Chuck penyumbang kegundulan hutan terbesar di pulau itu).
Si Tom jadi kurus
Awal percobaan melepaskan diri dari pulau gagal karena peahunya gagal melewati ombak besar. Perahunya hancur. Percobaan kedua dengan tak lupa mengajak Wilson “sang sahabat setia” dia berhasil melewati ombak besar yang akhirnya membuat dia mendapat posisi nyaman di lautan. Namun, badai belum berakhir, cuaca buruk menerpa Chuck dan Wilson yang berada di atas perahu sampan sederhana, mirip milik orang purba. Suatu pagi yang cerah, entah karena kelelahan atau apa, Chuck ketiduran. Sebuah ombak besar datang dan menerpa tiba-tiba. Wilson terlempar dari perahu. Chuck yang tahu akan hal itu kaget dan berusaha meraih Wilson. Wilson semakin menjauh, namun Chuck tidak menyerah. Dia tidak mau kehilangan “sahabatnya”. Apa daya, pada suatu titik, akhirnya Chuck harus memilih, memilih Wilson yang semakin jauh dari perahunya dengan resiko kehilangan perahunya, atau kembali ke perahunya dengan resiko kehilangan Wilson. Akhirnya, otak Chuck yang masih waras memilih untuk meninggalkan Wilson dan kembali ke perahunya. Chuck menangis semalaman karena kehilangan Wilson. Dia menangis semalaman hingga kecapean….
Keesokan harinya yang cerah, Chuck merasakan semburan air dari ikan paus yang membuatnya terbangun. Saat Chuck membuka mata, dia melihat ada kapal besar. Chuck merasakan harapan. Akhirnya Chuck tertolong dan dapat kembali ke Memphis…
Setibanya di Memphis, Chuck sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kelly. Plot film segera mengarah ke rumah Kelly dan menggambarkan Kelly yang sedang menerima telepon dan tiba-tiba pingsan. Rupanya Kelly kaget bukan main mendengar kabar bahwa Chuck masih hidup dan kembali, karena saat ini dia sudah menikah dengan orang lain dan sudah memiliki seorang anak.
Saat bertemu dengan Chuck, Kelly tergoda untuk kembali bersama Chuck. Namun Chuck yang telah memahami apa yang terjadi dengan Kelly, merelakan Kelly dan malah menyuruh Kelly untuk kembali ke keluarganya.
Ending yang mengecewakan adalah, saat Chuck sudah kembali ternyata keluarganya sudah pindah, sehingga Chuck sendirian juga....
Chuck menyadari bahwa meskipun perjuangan beratnya pada akhirnya tidak berakhir seperti yang diharapkan, namun dia tetap mempeoleh “upah” dari kerja kerasnya itu berupa kebebasan menuju peradaban hidupnya yang dulu. Dalam perjuangan yang berat, pasti ada pengorbanan, seperti kehilangan Wilson. but , Life Must Go On….so…. sama juga buatku, meskipun hari-hariku tanpa Syauqi, Life must go on .....






Wednesday, 27 November 2013

Aftershocks (Tangshan Dadizhen) - 2010


Tidak biasanya saya mellow terutama saat saya berada di salah satu tempat favorit saya, Jogjakarta. Namun, malam ini, entah kenapa tiba-tiba perasaan mellow bin termehek-mehek melanda. Barangkali karena saya sedang tidak bisa mencicipi Gudeg Yu Djum karena radang tenggorokan. Akhirnya, daripada membaca Buku Ainun & Habibie yang membuat mata saya sayup, saya memutuskan menonton televisi. Tidak sengaja, mata saya tidak mau beralih ke salah satu channel yang sedang menghadirkan sebuah film berjudul "Aftershocks" atau dalam bahasa chinanya berjudul Tangshan Dadizhen. Tak disangka, filmnya cukup bagus. Rating subyektif saya 8/10.

Film ini tergolong drama yang sedih dan sepanjang film mata saya basah karena terlalu menghayati. Film yang dibuat untuk mengenang gempa bumi Tangshan di China tahun 1976 yang merenggut kurang lebih 240.000 jiwa ini ternyata cukup sukses dan meraih keuntungan lebih dari 100 juta dollar di box office China. Akting Xi Fan yang berperan sebagai seorang ibu (Li Yuanni) bagi saya adalah soul dalam film ini. Kesedihan yang dipancarkannya sepanjang film membuat hati saya sukses termehek-mehek.

Film dimulai pada setting tahun 1976 di Tangshan, China, di mana sebuah keluarga sederhana yang bahagia tinggal di sebuah apartemen sederhana. Mereka tediri dari ayah (Fang Daqiang), ibu (Li Yuanni) dan dua anak kembar, perempuan dan laki-laki. Anak perempuan bernama Fang Deng, sedangkan anak laki-laki bernama Fang Da.

Hari itu, Li Yuanni meletakkan kedua anaknya di tempat tidur setelah mereka terlelap. Li Yuanni bersama Fang Daqiang keluar rumah sebentar dan meninggalkan anaknya tidur, di mana tiba-tiba saja gempa bumi terjadi dan menyebabkan apartemen mereka runtuh menimpa kedua anak mereka. Li Yuanni sontak kaget dan berlari menuju apartemennya untuk menolong anak-anaknya. Namun, Fang Daqiang mendahului Li Yuanni dan menariknya keluar yang menyebabkan Fang Daqiang terkena reruntuhan dan meninggal.

Si ibu, Li Yuanni yang selamat mencari kedua anaknya. Beruntung tim penyelamat berhasil menemukan kedua anaknya, namun naas, Fang Deng dan Fang Da tertimpa lempeng beton yang sangat besar di bawah reruntuhan. Ajaibnya mereka berdua masih hidup, namun posisi mereka membuat hanya salah satu dari mereka yang bisa diselamatkan. Jika beton dianngkat untuk menyelamatkan Fang Da, maka lempeng beton tersebut akan menimpa Fang Deng lebih dalam yang membuatnya dapat tewas, begitu pula sebaliknya. Sekelompok tim penyelamat yang akan menolong mereka meminta keputusan cepat dari Li Yuanni untuk memutuskan siapakah di antara kedua anaknya yang harus diselamatkan. Kontan saja, Li Yuanni shock dan tidak bisa memutuskan. Dia bersikukuh untuk menyelamatkan keduanya, namun tim penyelamat menyatakan tidak mungkin. Saat waktu mulai kritis dan tim penyelamat sudah kehilangan kesabaran menunggu keputusan Li Yuanni, secara spontan Li Yuanni memohon agar mereka menyelamatkan Fang Da, putra lelakinya. “Selamatkan putraku” begitu ujarnya. Tak disangka, Fang Deng yang masih hidup mendengar ibunya berkata demikian dari balik reruntuhan. Fang Deng pun mengira bahwa ibunya lebih mencintai adiknya dan dia pun menangis. Selanjutnya tim penyelamat segera mengangkat beton di sisi Fang Da dan menyelamatkannya. Fang Da kehilangan salah satu tangan akibat kejadian tersebut.

Setelah Fang Da diangkat, Fang Deng segera dikeluarkan dari reruntuhan. Mereka menganggap Fang Deng telah tewas karena tidak bergerak, hal yang tidak mereka ketahui adalah ajaibnya Fang Deng ternyata hanya pingsan. Li Yuanni lalu menggendong dan menangis meminta maaf pada Fang Deng dan meletakkan Fang Deng agar mayatnya dapat diangkut oleh tim penyelamat. Selanjutnya, Li Yuanni membawa Fang Da dengan wajah kosong karena sedih. Kejadian ini telah merubah dirinya selamanya.



Tidak berapa lama, mayat-mayat yang bertebaran segera dievakuasi oleh tim penyelamat. Di Antara gelimangan mayat-mayat itu, tiba-tiba, Fang Deng tersadar dan mendapati dirinya berada di antara mayat. Fang Deng bingung dan mencari-cari orang yang dia kenal dan mondar mandir hingga akhirnya ditemukan oleh seorang tentara yang membawanya ke kamp.

Pada akhirnya Fang Deng diadopsi oleh pasangan yang keduanya berprofesi dalam bidang militer dan telah kehilangan seorang putri. Pasangan itu bernama Wang Deqing (ayah angkat) dan Dong Guilan (Ibu angkat). Mereka sangat antusias menerima Fang Deng sebagai pelipur lara mereka karena sudah tidak punya anak. Pada akhirnya Fang Deng berubah nama menjadi Wang Deng. Ayah angkat Wang Deng sangat menyayangi Wang Deng seperti putrinya sendiri, namun sang istri tentara bersikap agak galak terhadap Wang Deng, meski demikian Wang Deng tetap bersikap penurut pada orang tua angkatnya. Wang Deng bersikap sangat pendiam karena masih menyimpan traumatis terutama akibat kata-kata Li Yuanni, ibu kandungnya. Dia sering mendapatkan mimpi buruk ditinggalkan oleh keluarga kandungnya. Di sinilah, Wang Deqing selalu setia menghibur dan menenangkannya.




Pasca gempa bumi tersebut, mertua Li Yuanni datang dari luar kota untuk meminta, tepatnya memaksa Li Yuanni agar menyerahkan Fang Da untuk mereka rawat di luar kota. Hal ini membuat Li Yuanni sangat sedih dan membuatnya merasakan kehilangan yang sempurna. Adegan yang sangat emosional, saat Li Yuanni mengantar Fang Da ke terminal untuk mengucapkan selamat tinggal. Sumpah saya jadi teringat kejadian yang mirip dengan hal itu pada masa kecil saya, karena itulah saya tidak tahan untuk menangis. Setelah bus yang dinaiki Fang Da berjalan bersama dengan mertua Li Yuanni, Li Yuanni berdiri termangu dengan wajah sedih menatap bus yang membawa putranya menjauhi dirinya. Saya makin Bombay-ties aja. Melihat hal tersebut, mertua Li Yuanni tidak tega juga dan akhirnya menurunkan Fang Da. Li Yuanni pun sontak dengan emosional berlari untuk menyambut putranya. Sedihhh…

Setelah itu, Fang Da dan Li Yuanni menjalani kehidupan baru yang penuh dengan rasa sepi dan sedih, terutama bagi Li Yuanni. Kehilangan suami dan anak perempuannya dengan cara yang menyedihkan menimbulkan kesedihan yang mendalam padanya. Li Yuanni selalu bekerja keras dan tidak pernah bersenang-senang. Dia merasa bersalah jika dirinya bersenang-senang. Dia bahkan tidak berencana untuk menikah lagi karena dia hanya mencintai almarhum suaminya yang rela berkorban untuknya. Uang hasil kerja keras Li Yuanni digunakan untuk sekolah Fang Da.

Di tempat lain, sepuluh tahun kemudian, Wang Deng yang telah remaja melanjutkan studi ke kedokteran yang mengharuskannya tinggal di asrama. Di sana dia berkenalan dengan seorang pemuda bernama Yang Zhi. Mereka memiliki hubungan yang serius.

Menginjak semester tiga, Dong Guilan sakit dan dalam kondisi kritis. Wang Deng pun akhirnya pulang dan menemai ibu angkatnya tersebut hingga Dong Guilan dijemput ajal. Sebelum meninggal, Dong Guilan mengatakan, meski dia galak, namun sebenarnya dia menyayangi Wang Deng. Dong Guilan memberikan uang simpanannya kepada Wang Deng sebagai biaya untuk mencari keluarga kandungnya.

Setelah kembali ke asrama, Wang Deng menemukan dirinya hamil dan diapun memberitahu Zhing Yi. Namun ternyata Zhing Yi tidak mau bertanggung jawab dan memaksa Wang Deng untuk menggugurkan kandungannya. Wang Deng yang memilih untuk mempertahankan kandungannya memilih drop out dari kuliah dan pergi ke Kanada. Di sana dia melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Dian Dian. Di sana dia membesarkan sendiri dan berusaha hidup Mandiri. Wang Deng menjalani kehidupan yang sederhana selama empat tahun di Kanada dan tidak pernah menghubungi Wang Deqing, ayah angkatnya. Wang Deqing yang sangat mencemaskan Wang Deng sangat menderita karena kehilangan kontak dengan putrinya.

Kehidupan Fang Da dan ibunya juga penuh dengan perjuangan. Karena tangannya cacat, Fang Da tidak berniat sekolah dan sempat membuat Li Yuanni kecewa. Fang Da lebih senang untuk mengantar jemput orang daripada melanjutkan sekolah. Pada akhirnya, Fang Da meninggalkan ibunya untuk mengadu nasib di Hazhou. Kesedihan Li Yuanni semakin bertambah karena kini dia hidup sendiri, meski demkian dia menguatkan dirinya demi masa depan Fang Da. Pada akhirnya, Fang Da menjadi pengusaha travel yang sukses dan menikah dengan seorang gadis cantik. Tidak lama, Fang Da memiliki anak laki-laki yang secara kebetulan dinamakan Dian Dian. Episode yang sangat emosional terjadi kala Fang Da memaksa istrinya meninggalkan anaknya yang masih bayi untuk diasuh oleh Li Yuanni. Istri Fang Da yang tidak setuju anaknya dirawat oleh mertuanya memberontak, namun akhirnya berhasil dipaksa oleh Fang Da. Sebelum istri Fang Da pamit untuk kembali ke Hazhou, dia menatap anaknya lekat-lekat sambil menangis. Kembali saya teringat, perpisahan saya dengan Syauqi yang saat itu masih bayi. Saya jadi emosional….

Di tempat lain di Kanada. Akhirnya setelah empat tahun tidak pulang, Wang Deng pulang ke China untuk menemui Wang Deqing. Wang Deqing terharu dan sangat gembira, terlebih mengetahui kalau dia sudah punya cucu. Pada saat tahun baru, Wang Deng memberi tahu ayahnya bahwa dia sudah menikah dengan pria asing dan akan berimigrasi ke Kanada.

Tahun 2008, di Kanada, Wang Deng melihat berita di televisi yang menyiarkan terjadinya gempa di Sichuan, China. Wang Deng teringat dengan kenangan gempa Tangshan yang dia alami. Atas ijin suaminya, akhirnya Wang Deng mendaftarkan diri sebagai sukarelawan untuk membantu korban bencana. Hal yang tidak dia sangka adalah, adiknya Fang Da juga melakukan hal serupa. Saat waktu istirahat, Wang Deng dan Fang Da berada di lokasi yang berdekatan. Secara kebetulan, Wang Deng sedang bercerita kepada salah seorang temannya tentang gempa Tanshang tahun 1976 yang dia alami. Hal ini membuat Wang Deng sadar bahwa dia sedang bersama adiknya.

Wang Deng memutuskan untuk bertemu ibunya sambil diantar Fang Da. Wang Deng sempat menyesal tentang perasaannya terhadap Fang Da selama ini. Saat Wang Deng tiba di rumah, Li Yuanni bersujud di depan Wang Deng dan meminta maaf. Li Yuanni bertanya, mengapa selama 32 tahun Wang Deng tidak mencari atau mengabarinya. Li Yuanni menangis dan memeluk Wang Deng. Selanjutnya, mereka berdua berbagi cerita. Wang Deng mengatakan bahwa dia telah memiliki seorang putri berusia 18 tahun yang sedang berkuliah bernama Dian dian. Li Yuanni kaget bahwa kedua cucunya memiliki nama yang sama.


Esok harinya, Li Yuanni sekeluarga mengunjungi makam suaminya. Di dekat makam itu terdapat tanda makam Wang Deng yang di depannya merupakan rongga yang dapat dibuka. Wang Deng melihat barang-barang yang dikirimkan ibunya selama bertahun-tahun seperti tas, peralatan sekolah, buku-buku, dsb. Fang Da menjelaskan bahwa ibunya selalu membelikan barang yang sama untuk Fang Da dan Wang Deng. Wang Deng akhirnya sadar, bahwa dia telah salah paham terhadap ibunya. Wang Deng pun menangis dan meminta maaf terhadap ibunya.

Sunday, 27 October 2013

Ticket (2008)




Inilah salah satu film yang tidak bisa saya lupakan karena membuat saya termehek-mehek habis habisan. Kesan pertama saya mencari review film asal Taiwan ini di Mbah Google adalah susaaah minta ampun alias belum nemu reviewnya. Apa mungkin saya yang kurang canggih kali ya… anyway saya heran karena film yang menurut saya menguras air mata melebihi film 1 litter of tears ini kok kayaknya kurang terkenal ya? Padahal menurut saya bagus filmnya. Bagi yang penasaran pengen tahu sinopsis film drama melow ini yuk cekidot aja...

Cerita film ini bermula saat seorang gadis yatim piatu yang telah dibesarkan sekian tahun di panti asuhan di sebuah gereja telah tumbuh dewasa dan lulus kuliah. Seorang suster yang telah mengasuhnya dan sangat dekat dengannya, bahkan dia anggap sebagai ibunya sendiri, sakit-sakitan dan sekarat. Saat sekarat itulah, sang suster bercerita bahwa saat suster tersebut menemukannya di depan gereja, suster tersebut juga menemukan beberapa benda yang bisa dijadikan petunjuk jika suatu hari sang gadis ingin mencari ibunya. Benda-benda tersebut adalah secarik kain pembungkus bayi dan beberapa tiket.

Sang gadis yang awalnya enggan mencari ibu kandungnya karena dianggap telah membuangnya, lama-lama penasaran juga ingin mencari ibunya. Dia meyakinkan dirinya bahwa pencariannya ini hanya sekadar ingin tahu seperti apa rupa wanita yang telah menelantarkannya dan tidak ingin mengenalnya lebih jauh.

Akhirnya perjalanan pun dimulai. Sang gadis ditemani oleh temannya mulai menelusuri alamat yang tertera pada tiket tersebut. Tidak disangka ternyata perjalanan mereka sangat jauh dan membawa mereka ke tempat-tempat terpencil. Mereka pun akhirnya bertanya kepada polisi daerah tentang catatan kelahiran bayi di kisaran tahun kelahiran sang gadis. Dari catatan kepolisian, diketahui bahwa ada tiga keluarga yang kemungkinan adalah keluarga kandung dari sang gadis.

Sang gadis pun mulai mencari ke keluarga pertama, di mana pencarian tersebut mengantarkannya ke areal persawahan. Di sana banyak tinggal keluarga petani. Setelah ditelusuri, akhirnya sang gadis menemukan orang yang diduga sebagai ibu kandungnya. Ternyata setelah diteliti lebih jauh, sang gadis menemukan beberapa hal yang membuatnya tidak yakin bahwa orang tersebut adalah ibu kandungnya.

Keesokan harinya, sang gadis melanjutkan pencarian ke keluarga ke dua. Tidak disangka, bahwa pencarian ini sangat jauh dan mengantarkannya ke tempat yang lebih terpencil. Dia sampai ke sebuah daerah pegunungan. Selanjutnya dia menanyakan kepada orang sekitar tentang nama marga orang (maaf saya lupa) yang dicarinya. Selanjutnya, petunjuk mengantarkan sang gadis ke sebuah rumah gubuk yang sederhana. Perjalanan menuju rumah gubuk itu dilalui dengan menyeberang sungai  yang curam yang dilakukan dengan semacam tali yang dilengkapi tempat duduk. Karena tidak terbiasa, sang gadis merasa takut. Namun, anehnya, dia seperti merasakan déjà vu dengan hal tersebut.

Rumah itu, terlihat mengenaskan dan sedang tidak ditempati oleh penghuninya. Saat sang gadis masuk, dia terkejut melihat sobekan kain korden kamar  yang mirip dengan kain pembungkus bayi dirinya saat ditemukan oleh suster pengasuhnya.

Selanjutnya dia melihat foto keluarga di rumah itu yang sudah sangat usang. Foto itu menunjukkan wajah pria dan wanita yang gambar wajahnya telah sangat kabur. Berdasarkan keterangan dari tetangga, wanita yang telah menempati rumah itu bekerja sebagai guru sukarelawan di sebuah sekolah yang letaknya cukup jauh. Biasanya, dia akan pergi selama beberapa hari. Tetangga tersebut menyarankan sang gadis agar mengunjungi sekolah tempat wanita itu bekerja sebagai guru sukarelawan yang megajarkan menyanyi.

Sang gadis akhirnya pergi ke sekolah yang letaknya cukup jauh. Setelah sampai di sekolah, dia melihat seorang wanita yang sedang bersama murid-muridnya di halaman sekolah. Sang gadis mengira wanita itu adalah ibunya. Sang gadis terlihat emosional, dan berniat untuk pergi, namun wanita itu keburu melihatnya dan menegurnya. Sang gadis akhirnya dengan terpaksa berkenalan dengan wanita itu. Setelah wanita itu mendekat, wanita itu kaget melihat wajah sang gadis dan berkata pada sang gadis bahwa wajah sang gadis mirip seseorang. Mendengar hal tersebut, sang gadis terkejut. Ternyata orang yang dimaksud adalah ibu kandung sang gadis yang ternyata baru saja meninggal akibat emboli paru-paru. Mendengar berita itu, sang gadis terlihat kaget dan sedih.
Selanjutnya, wanita itu mengajak sang gadis untuk menyerahkan beberapa barang yang ditinggalkan ibu kandungnya. Wanita itu menunjukkan tumpukan tiket-tiket kereta. Alangkah terkejutnya sang gadis melihat daerah yang tertera pada tiket-tiket tersebut. Tiket-tiket itu menunjukkan bahwa setiap tahun, ibu kandungnya pergi ke daerahnya.

Sang wanita bercerita bahwa, ayah kandung sang gadis sebenarnya adalah pria yang tidak baik dan kasar. Oleh karena itu, demi melindungi sang gadis dari suaminya dan demi mendapatkan fasilitas dan penghidupan yang lebih layak untuk sang gadis, ibu kandungnya terpaksa menyerahkan sang gadis saat masih bayi ke panti asuhan gereja yang reputasinya baik. Perjalanan yang ditempuh oleh ibu kandung sang gadis luar biasa jauh dan berat. Ibu sang gadis harus berjalan melewati areal pegunungan hingga harus menabung untuk membeli tiket tiap tahunnya hanya untuk mengintip putrinya dan memastikan putrinya baik-baik saja. Perjalanan berat itulah yang membuat ibu kandung sang gadis akhirnya meninggal karena penyakit emboli paru-paru.

Betapa hancur hati sang gadis (dan hati saya) mendengar kenyataan itu. Dalam beberapa foto sang gadis, ditunjukkan bahwa saat sang gadis berfoto pada masa sekolah dan kelulusan kuliah di sekolah gereja, seorang wanita yang menutupi separuh wajahnya selalu di dekat dia dan berusaha menyentuhnya. Sang gadis menangis mengetahui hal tersebut, namun lega telah mengetahui ibu kandungnya.


Di akhir film, saya disuguhi pemandangan kasih sayang seorang ibu yang membuat saya haru biru. Ibu kandung  sang gadis selalu mengintip anaknya dan berusaha menyentuhnya. Overall meski ceritanya terkesan sederhana, namun penyajian film tersebut menurut saya sangat menyentuh hati, apalagi diiringi dengan lagu sedih, anehnya nadanya mirip dengan lagu Indonesia (saya lupa judulnya) “kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang, dst”.

Confession (Kokuhaku) ~ 2010


Meskipun saya penggemar film berbagai genre, tapi saya tidak mudah untuk dibuat terkesan oleh sebuah film.  Namun tidak bagi film satu ini. Luar biasa! Itulah yang saya ucapkan dari mulut saya setelah film ini berakhir. Bisa dibilang, film Jepang berjudul Confessions ini benar-benar mengacak acak emosi saya. Dan terbukti, film ini banyak menyabet penghargaan nasional dan internasional.

Kalau menurut saya, film ini masuk kategori psychological thriller dengan twist ending yang puaaaaaasss banget! Kalau boleh saya rangkum menjadi satu kalimat yang mewakili ceritanya, kalimatnya barangkali cocok dengan ini : “Pembalasan dendam paling efektif”. 

Terus terang, acak acaknya emosi saya, dikarenakan, sebenarnya saya memiliki beberapa kemiripan dengan tokoh dalam film ini, seorang ibu yang memiliki satu anak dan masih kecil, dan si pelaku / penjahat dalam film ini adalah seorang anak kecil (smp), yang karena dia bocah lelaki, saya jadi ingat dengan anak saya. 

Permasalahan utama emosional dari film ini adalah, pembalasan dendam tersebut dilakukan oleh seorang guru wanita kepada muridnya, seorang bocah lelaki kecil, karena telah membunuh anak perempuan satu-satunya yang masih kecil (duh.. saya kalo teringet jadi sedih L) dengan cara yang dingin namun paling kejam bagi bocah lelaki tersebut. Ampun deh saya ngeliatnya…. Tapi ga ada something gore / sadis2an di sini, murni psikologi. Plus, awalnya saya sebel banget melihat bocah tersebut karena tidak menyesali perbuatannya, namun di tengah-tengah film saya jadi tahu bahwa sebenarnya dia seorang anak yang haus kasih sayang dan hanya mencari perhatian. Di sisi lain saya benci, di sisi lain saya juga ada rasa iba.

Untuk lihat review film ini, banyak banget tersedia di mbah google, atau klik di sini.

Yang sudah terlanjur nyasar di blog ini, bisa langsung cekidot step-step inti ceritanya di bawah yah, dan karena saya ga terlalu suka kejutan, saya ga akan pelit kasih bocoran twist ending film yang bikin hati saya puas ini.... cekidot :

-    Yoko Moriguchi seorang guru wanita SMP yang juga single parents mengundurkan diri dari sekolah. Hal ini karena putri satu-satunya yang masih kecil meninggal tenggelam di kolam renang yang oleh polisi dianggap kecelakaan.

-    Di hari terakhir pengunduran dirinya, dia mengungkapkan di depan kelas bahwa sebenarnya anaknya tidak meninggal akibat kecelakaan, namun karena dibunuh dua orang muridnya yang dia sebut murid A dan murid B. Dari beberapa keterangannya, murid-murid di kelas pun tahu siapa murid A dan murid B.

-    Sebelumnya, Yoko membagikan susu kepada murid-murid di kelasnya yang juga dihuni oleh murid A dan murid B. Setelah muridnya meminum susu tersebut, Yoko mengungkapkan bahwa susu yang diminum murid A dan murid B telah dicampur dengan virus HIV dan bisa dicek perkembangannya setelah 3 bulan. Hal ini menyebabkan murid-murid heboh, dan murid A dan murid B panic.

Flashback film :

-    Murid A sebenarnya adalah anak yang paling jenius di sekolah, tapi introvert. Karena kurang kasih sayang akibat ditinggal ibunya yang ingin meniti karir di bidang ilmuwan, murid A terobsesi untuk membuat penemuan yang membuat ibunya kembali padanya. Intinya dia adalah anak haus kasih sayang.

-      Murid B sebenarnya anak yang selalu menjadi obyek bullying dan bodoh.

-     Masalah bermula ketika murid A berhasil menemukan resleting dompet yang dapat menyetrum seseorang yang membukanya (anti mugger). Ketika murid A menunjukkan kepada Yoko, jelas Yoko melarangnya karena berbahaya. Kecewa dengan hal tersebut, murid A akhirnya bertekad mengetes penemuannya itu dan mencari dukungan yang jatuh pada murid B.

-    Murid B yang bodoh dan mengiyakan apapun yang dikatakannya berinisiatif untuk mengetes dompet tersebut pada Manami, putri Yoko yang masih kecil.

-      Manami yang pada hari naas itu ada di dekat kolam renang sekolah Yoko, terbujuk oleh rayuan kedua murid tersebut dan mau untuk membuka dompet yang diberikan murid A. Alhasil, Manami terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri. Murid A mengira Manami tewas dan menyalahkan murid B sembari melarikan diri.

-    Murid B yang tidak terima diolok-olok oleh murid A bermaksud untuk membuktikan bahwa dirinya berguna. Dia sempat melihat Manami membuka mata, namun karena murid B dikuasai oleh keegoisannya dan kepanikannya (atau kebodohannya???), dia melempar Manami ke kolam. Manami pun meninggal karena tenggelam.

-      Polisi akhirnya tidak bisa menyeret murid A dan murid B ke penjara dan menganggap kejadian tersebut karena kecelakaan. Alasannya, karena mereka berdua masih di bawa umur. Dari sinilah Yoko berniat memberikan terror mental kepada murid A dan murid B.

    Yang saya suka di sini adalah, begitu Yoko tahu pembunuh anaknya tidak diganjar apa-apa, ekspresinya sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya yang masih kecil sangat dingin, seperti tidak ada kesedihan dan kebencian, emosinya benar-benar tidak bisa ditebak.

Balik lagi ke plot film saat pengunduran diri Yoko.

-      Murid A dan Murid B pasca meminum susu menanggapi kejadian tersebut dengan hal berbeda. Murid B shock, tidak mau masuk sekolah, tidak mau mandi, tidak mau keluar kamar, ibunya sampai menderita. Akhirnya karena stress, dia membunuh ibunya dengan menusuknya memakai pisau, padahal ibunya adalah orang yang benar-benar mencintai dan setia kepadanya, dan akhirnya karena menyesal yang mendalam, murid B menjadi gila.

-     Murid A, awalnya memang panic setelah diberitahu jika susu yang telah diminumnya terinfeksi virus HIV. Namun dia lama-lama melihat hal ini justru akan menjadi peluang dirinya “dikasihani” ibunya lagi dan mendapatkan kasih sayangnya. Belakangan diketahui bahwa dia sebenarnya telah melakukan tes dan mendapatkan hasil negative. Jadi sebenarnya, susu yang diminum murid A dan murid B tidak terinfeksi HIV.

-     Yoko mengirimkan email gelap kepada murid-muridnya agar mereka membully murid A. Yoko tetap mencari berita mengenai murid A yang awalnya menderita karena di bully oleh teman-temannya. Namun, akhirnya murid A berhasil mengatasi bullying dengan cara menakut nakuti teman-temannya dengan darahnya yang dia koarkan mengandung HIV. Teman-temanya pun akhirnya takut membully dia dan lambat laun dia tidak menjadi korban bullying lagi. Yoko kecewa saat dia tahu murid A tidak dibully lagi.

-   Murid A mempunyai website yang menceritakan bahwa dia merasa menderita karena telah ditinggalkan ibunya. Ia berusaha keras membuat penemuan-penemuan yang akan membuat ibunya kembali melihatnya. Suatu hari, dia mengunjungi laboratorium tempat ibunya bekerja, namun yang ia temukan adalah foto ibunya bersama pria lain, yang ternyata adalah pria yang telah dinikahinya, di mana mereka saat itu tengah berbulan madu. Murid A kecewa berat. Dia menulis di websitenya bahwa dia tidak mencintai ibunya lagi. Ternyata, websitenya tersebut diikuti oleh Yoko, dan Yoko sebagai orang dewasa yang terus mengikuti websitenya paham bahwa sebenarnya Murid A telah berbohong dengan mengatakan tidak mencintai ibunya.

-      Murid A akhirnya membuat proyek merakit bom. Dia ingin bunuh diri bersama murid-murid di aula saat kelulusan. Bom rencananya akan dia ledakkan tepat setelah dia berpidato yang dikontrol melalui tombol ponsel miliknya.

-   Menjelang kelulusan, murid A meletakkan bom di area aula secara diam-diam, dia yakin rencananya akan berhasil.

-       Saat hari kelulusan tiba, tibalah murid A maju ke depan mimbar untuk berpidato sebagai lulusan terbaik. Begitu pidatonya selesai, dia memencet tombol ponsel miliknya dan berharap ledakan terjadi. Namun tidak terjadi apapun. Mimik murid A yang semula cerah, menjadi bingung. Dia pun memencet kembali tombol control bom beberapa kali dan tidak terjadi apapun.

-   Tiba-tiba muncullah dering telepon di ponselnya. Murid A kaget dan mengangkat telepon tersebut. Ternyata telepon tersebut dari Yoko yang selanjutnya tiba-tiba saja Yoko hadir di aula itu untuk mengungkapkan hal yang sangat mengejutkan bagi Murid A dan seluruh pengunjung aula.

-      Ternyata, bom rakitan murid A telah dipindahkan ke laboratorium ibu murid A menjelang waktu peledakan. Yoko juga menceritakan, bahwa bom tersebut dia bungkus layaknya kado dan diserahkan ke Ibu Murid A sebagai hadiah proyek dari murid A. Dia menceritakan tentang kehebatan dan juga perilaku murid A. Yoko mengatakan pada murid A, betapa ibunya sangat menyesal meninggalkan dia dan masih mencintainya. Pengakuan dari Yoko ini sangat mengejutkan murid A dan membuatnya shock. Jadi, murid A telah membunuh orang yang paling dicintainya, yaitu ibunya, dengan bom rakitannya sendiri. Murid A kemudian menangis meraung-raung di tengah kerumunan murid-murid yang juga kaget karena murid A berniat membunuh mereka dengan bom.

-      Pesan yang paling mendalam dari Yoko untuk murid A di ending film adalah : “mulai saat ini, hidupmu akan terus dihantui oleh penyesalan seumur hidupmu!” dan film pun berakhir.